Cara Untuk Komen
Untuk Meninggalkan Komen..Korang Klik Pada Title Pada Post Yang Korang Nak Komen Dan Korang Akan Lihat Ruangan Komennya Ada Dibawah
Blog Archive
-
▼
2010
(195)
-
►
April
(19)
- kawan2 aq y hampeh
- CompTIA A+ Certification
- Siapa Curang ? ?
- Gambar Yang Mampu Menipu Pandangan Mata
- Kek Kukus Lagi =)
- Kek Coklat Kukus
- Rindu =(
- Coba Kau Bayangkan - The Dance Company
- Dengar Bisikku by The Rain
- Lirik Lagu Rasa Ini - Vierra
- lirik lagu Mojacko versi Melayu
- Kain Kapan Buruk
- Karangan
- alamak...
- KALAU ANDA FIKIR ANDA MASIH ISLAM
- FADHILAT SURAH AL-KAUTHAR
- Konsert Wali Band
- Gambar Telur Keluar Dari Ovari
- Ragam Rakyat Malaysia
-
▼
March
(140)
- Ingat Macam Bom Tangan
- Cerita Seram di Bukit Putus
- MunGKin SelaMA niE Ada Yang TaK PErasan...
- KenALi PErsONaliti AnDa & AnAk Anda
- Mengandung ? ? ?
- Kenali Rahsia Tali Lalat Anda
- Dua kualiti dalam bidang perubatan
- 20 cara Untuk Jadikan Roommate Korang Gila
- Lelaki Hamil..!!!
- Nenek Kesayangan
- hurm~~~
- Amy Search tangguh pembedahan demi Konsert Suatu M...
- Kereta Bentley Flying Spur AC Mizal
- Benjy Ditahan Semula Buat Kali Ke-2
- Gambar Artis Xsenonoh
- kembali ke poli..again
- Aku Tak Suka Kau....
- Resepi Ayam Goreng Rempah Tak Kunjung Tiba
- Kisah Si Koboi Yang Hampeh
- Hawa Tertipu
- Kapal Terbang Xpasang Aircond
- Asal Usul Singapura Versi 2
- Asal Usul Singapura Versi 1
- Great Competition
- Antara Kerja Dan Kain
- Pantun Nasihat Membawa Berkat
- PeribaHasA kaRam sinGh waLia yg x karam
- Nadiku – Sabhi Saddi
- Lirik Lagu Ku Bukan Aku - Tilu
- Saintis Katak
- Spesifikasi Couple
- Bijirin
- Can-Ni ball
- Lagu: KAU ROTIKU Artis: NAWIE
- Lagu: MAWAS Artis: KRA
- Hang Tuah 7 Bersaudara
- Surat Putus Cinta Versi Speaking London
- Siti Nurhanim Aziz Tidak Ditahan Polis (JAIS Apa C...
- Anak Yang Baik
- ' P ' Mana ? ?
- Beli Bangkai
- Pencuri Merapu
- Unta Minta Upah
- Kubur Diatas Tanah
- Perompak Bas Kilang
- Ayang vs Abang...Sape yg salah?? (Surat Untuk Aban...
- Ayang vs Abang...Sape yg salah?? (Surat Untuk Ayan...
- Mana Surat Tue ?
- Kacang
- Mengapa Portugis Tak Menawan Utara Tanah Melayu ?...
- Petai Punya Pasal
- Ujian Darah
- Kisah Semasa Dating
- Profesional Muda
- Silap Nombor Punya Pasal
- Kali Pertama
- Thank Tou Seven
- Peristiwa Di KLCC
- Mengintip Malam pertama
- Seman Si Mat Rempit
- Pantun Ikut Sleng Negeri Di Malaysia
- Asal Usul Elektrik
- Kisah Malam Pertama ( 18 sx)
- Mat Punk
- Paling Bersih
- Ayam Panggang
- Kalau Sampai Ipoh
- Tetamu Yang Tak Diundang
- Sakit Jiwa
- Wanita Dan Lelaki Tua
- Isteriku Bawak Sial
- Ada Untung Woooo ! ! !
- Kemalangan
- Pak Pandir Di Lebuhraya
- Don't Worry
- Drakula
- Kenapa Gula - Gula Getah Di Haramkan Di Singapura ...
- To Make You All Laugh
- Awas ! ! Pelancong Malaysia Ke Bali
- Guru Di Malaysia Belum Bersedia Ajar Pendidikan Se...
- Ulat Keluar Dari Tubuh Belajar
- Anak Kambing Bertubuh Manusia ! !
- Salah Tafsir
- Ayam Macho
- Zaman Berkembar
- Kisah Dua Hantu
- Papa Dan Mama
- Salah Rendam
- Tiga Sekawan
- Abang Aku Selalu Buat
- Datang Bulan
- Isteriku Liza
- Tiga Anak Dara
- Bogel
- Jelingan Ayah
- Lawatan Kosong Di Jasin Municipal Council
- Jawatan Kosong Amanah Ikhtiar Malaysia
- Jawatan Kosong Di Kementerian Pertahanan
- Jawatan Kosong Mada
- Jawatan Kosong
- Menunggang Harimau Di Tengah Malam
- Dialog Rasulullah SAW Dengan Iblis Laknatullah
- Kisah Benar Daripada Seorang Perogol
- Menantu Hantu
- Asal Nama Negeri Pahang
- Kentut
- Ragam Orang Dan Kahwin
- Teruna Dan Dara
- Atuk Dan Cucunya
- Hantu Tali Gantung
- Kuda Makan Rumput
- Kebenaran Siksa Kubur - Peringatan daripada Allah...
- Haramkan Pemakaian Tudung
- Kentut Yang Seram
- Big apple =)
- Makhluk Asing Dan Agkasawan
- Pengakuan KISAH BENAR banduan rogol anak sendiri
- Lepas Halimah Jongang, sambung pula Fatimah Juling...
- Awas Dengan Budak Ni
- Orang Perempuan Suka Cakap Macam Ni...
- Influenza CG - Jerat Cinta Di Internet
- Tip Mengetahui Pasangan Tipu Atau Tidak
- Warning ! ! ! 18 tahun keatas sahaja (18sx)
- Fakta Pelik Mengenai Jerung
- Sedekah/Sadaqah
- Solat Subuh di Masjid
- CAHAYA MUKA NABI S.A.W.
- Kisah Malang Saiful
- Babi Kebulur Di Bukit Antarabangsa
- Monyet oH Monyet
- Bukan Semua Benda Boleh Buat Laporan Polis
- Pelancong Cina Vs Pengarah Filem
- Tip Untuk Penjenayah
- Gadis Sengal Tahap Cipan
- Amin Slumber
- Sup Ketam Penawar Denggi
- Mayat Senyum
- Bahasa Inggeris
- Cik Yam Dan Cik Bu
- Alahai Sengau
-
►
April
(19)
Wednesday, March 3, 2010
Kampung Pandan Seri sedang musim durian. Sepanjang musim itu Bang Akob tidur di pondok duriannya, beberapa meter dari tanah perkuburan Islam kampung itu. Seperti biasa, menjelang tengah malam dia pasti menyusur dusunnya memungut durian. Kalau tidak, sudah pasti duriannya akan dipungut budak-budak dadah yang sering merayau-rayau di dusun orang tidak kira waktu.
Malam itu, angin mendesah. Sekali sekala kilat memancar. Durian amat rahat. Di setiap penjuru dusun kedengaran bunyi durian gugur. “Kalau tak cepat pungut, habislah pagi esok…” kata Bang Akob dalam hati. Sambil menggalas bakul rotan, dia menyuluh di kawasan pangkal pokok yang ada dua puluh batang itu. Kebanyakan pokok durian di dusun Bang Akob pokok tua. Dusun itu harta pusaka peninggalan ayahnya.
Angin malam itu terus mendesah. Kadang-kadang kuat, kadang-kadang perlahan. Ketika bertiup kencang, meliang-liuk kebanyakan dahan pokok dibuatnya. Ketika itu juga kedengaran bunyi durian gugur bertambah banyak. Hati Bang Akob kepalang gembira. Rezekinya esok hari pasti bertambah, fikirnya.
Sebiji demi sebiji durian dipungut dan dimasukkan ke dalam bakul rotan. Hati Bang Akob begitu lega. Duriannya tak sempat dipungut Mat Gian – panggilan biasa kepada budak-budak penagih dadah di kampungnya.
Bagaimanapun sesampai saja di pangkal sebatang durian berhampiran tanah perkuburan itu, Bang Akob terkejut. “Eh, dah datang pun dia…nasib baik aku sudah habis pungut…tak dapatlah dia,” bisik hati Bang Akob sebaik saja dia ternampak satu lembaga di tepi dusunnya.
“Fasal apa dia menuju ke kubur pula?” Kata Bang Akob kehairanan. Bang Akob bergerak menyusur ke penjuru tanahnya. Kemudian dia menyembunyikan diri di sebalik sebatang pokok besar. Lembaga itu bergerak perlahan sambil menarik seutas tali bubut kira-kira dua depa panjangnya. Tanpa membuang masa Bang Akob menyuluh. Suluhannya tepat ke wajah lembaga itu. Sekali lagi Bang Akob terkejut apabila wajah lembaga itu menyerupai orang yang dikenalinya.
“Eh, aku kenal…” bisik hati Bang Akob. “Pak Misan…!” Bang Akob melaung sekuat-kuatnya memanggil Pak Misan, orang tua kampung yang sering menjadi temannya berbual.
Bagi penduduk Kampung Pandan Seri, Pak Misan adalah seorang tokoh. Dia terkenal pendekarnya. Selain itu, dia juga tempat penduduk lelaki meminta ubat untuk menguatkan tenaga tertentu.
Tiada sebarang jawapan daripada lembaga itu. Ia berjalan terus sambil mengheret tali bubut. Tidak beberapa minit satu kejadian mengejutkan Bang Akob. Sebaik-baik saja dia membongkok memungut durian dan kemudian tegak semula, lembaga berwajah Pak Misan hilang dalam gelap malam itu.
Puas juga Bang Akob menyuluh di setiap penjuru dusun duriannya, namun lembaga itu tetap tidak kelihatan lagi. Bang Akob melaung memanggil Pak Misan tetapi tidak ada sebarang jawapan. Dia mula takut. Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berguguran. Kilat memancar sekali-sekala. Bunyi burung hantu di kejauhan menambahkan seram suasana ketika itu.
Bang Akob betul-betul ketakutan. Dia tidak mempedulikan lagi durian yang gugur. Apa yang ada di bakulnya, itu saja yang dibawa pulang ke pondok. Langkahnya begitu cepat. Hatinya bertanya sendiri: ”mengapa Pak Misan merayau di tanah kubur pada tengah-tengah malam begini?”
Menjelang subuh, Bang Akob pulang ke rumah membawa durian yang penuh sarat di dalam bakul di belakang motosikalnya.
Sebaik saja sampai di kepala simpang, Bang Akob terkejut besar ramai penduduk berkumpul di situ. Sebuah Land Rover hitam juga ada di situ.
“Eh apa halnya?” Tanya Bang Akob apabila ternampak kaki orang terjulur dari belakang Land Rover hitam itu.
Pagi itu Kampung Pandan Seri gempar secara tiba-tiba. Seorang penduduk, Mat Jami menemui mayat Pak Misan terlentang di bangsal di belakang rumahnya. Terpandang saja mayat itu, Mat Jami patah balik ke masjid. Dia ingin memberitahu jemaah masjid yang belum pulang selepas menunaikan solat subuh.
Ketua kampung dan Pak Imam masih di masjid. Mereka dan beberapa jemaah terkejut dengan berita yang dibawa Mat Jami. Tanpa membuang masa, mereka beredar ke rumah Pak Misan, Pak Misan sudah kaku di tepi bangsal. Mayatnya dikerumuni semut halus.
“Eh, apa hal Pak Misan memegang tali?” Tanya Pak Imam. Semua yang ada menerpa menghampiri mayat Pak Misan. Soalan itu tidak berjawab. Tidak ada seorang pun di situ yang tahu mengapa seutas tali bubut panjang dua depa itu ada di sisi Pak Misan.
“Kemaskan rumah Pak Misan,” arah Tuk Ketua Kampung. “Seorang pergi beritahu polis.”
Beberapa orang segera naik ke rumah Pak Misan. Pintu depan dan semua tingkap rumah itu terbuka. Mereka mengemas di sana sini dan membentang tikar tempat Pak Misan dibaringkan nanti.
“Kemudian kamu beritahu semua anak Pak Misan,” sambung Tuk Ketua Kampung apabila salah seorang penduduk bersedia dengan motosikalnya untuk ke balai polis kira-kira lima kilometer dari kampung itu.
Dalam masa yang singkat saja kematian Pak Misan tersebar ke seluruh kampung. Orang ramai mulai datang kerana ingin melihat keadaan Pak Misan yang dikatakan misteri itu.
Polis datang dan mengambil mayat Pak Misan untuk dibedah siasat. Orang kampung terus mengerumuni Land Rover hitam. Ketika itu Bang Akob sampai dan dia berhenti di situ bersama-sama dengan orang ramai. Di situ juga dia mendengar cerita mengenai mayat Pak Misan terbujur memegang seutas tali.
“Pak Misan memegang tali?” Tanya Bang Akob sendirian. Keanehan itu timbul kerana dia sendiri terserempak dengang lembaga menyerupai Pak Misan di kebun durian. Dia juga kelihatan mengheret seutas tali.
Selesai urusan pengkebumian Pak Misan, cerita misteri kematian Pak Misan tidak habis di situ. Ia merebak terus. Ramai yang bersimpati dengan arwah Pak Misan namun ramai juga yang mengaitkannya dengan pelbagai kisah timbul ketika Pak Misan masih hidup.
Seminggu selepas kematian Pak Misan, timbul pula kejadian yang lebih buruk. Kampung Pandan Seri ditimpa suasana yang menakutkan. Menjelang senja saja, terdengar suara terpekik terlolong kononnya terpandang lembaga mengheret tali berjalan di sekitar rumah Pak Misan. Yang mendakwa nampak hanya seorang dua, tetapi ceritanya cepat merebak sampai ke telinga anak remaja dan suri rumah.
Suatu senja, beberapa lelaki agak tua berjalan melintasi rumah arwah Pak Misan yang tinggal kosong sejak kematiannya. Sebaik saja sampai di depan rumah itu, mereka ternampak jelas satu lembaga menyerupai Pak Misan.
Sebelum meninggal, di situlah biasanya Pak Misan berdiri menunggu kawan-kawannya bersama ke masjid.
Hari demi hari, semakin ramai orang terserempak dengan lembaga itu. Yang anehnya tiap kali bertemu lembaga orang tua itu sedang mengheret tali.
Bukan itu saja,tali bubut itu juga melahirkan satu lagi misteri. Beberapa orang suri rumah pernah terserempak tali itu berlengkar di depan pintu rumah.
Kejadian itu sesungguhnya amat menakutkan penduduk Pandan Seri. Langkah mengatasinya diambil. Tuk Ketua Kampung memanggil anak buah berkumpul mencari jalan menghilangkan jelmaan itu. Ramai penduduk kampung bersimpati dengan arwah Pak Misan.Mereka tidak mahu jelmaan lembaga itu dikaitkan dengan Pak Misan. Sudahlah ketika ada hayatnya dulu hidup sebatang kara, ditinggal anak dan matinya pula menjadi sedemikian rupa.
“Baiklah, biar saya cuba bercakap dengan lembaga itu,” kata Pak Imam membuat cadangan.
“Saya nak ikut Pak Imam,” celah seorang ketika berlangsung pertemuan penduduk di masjid kampung itu.
“Biar saya pergi seorang diri…” jawab Pak Imam, ”saya merayu dengan makhluk halus itu nanti supaya jangan mengganggu penduduk kampung kita.”
Ramai orang tua di kampung itu percaya kononnya ketika hayatnya dulu, Pak Misan banyak menyimpan ilmu batin, termasuklah ilmu mempertahankan diri dan penggerun. Banyak makhluk halus mendampinginya. Akibatnya kehidupan Pak Misan menjadi tidak tenteram, terutama pada penghujung hayatnya.
Pada usia penghujung enam puluhan, Pak Misan kematian isteri. Dia tinggal kesepian. Semua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari rumah orang tua itu. Akhirnya, kira-kira enam bulan hidup membujang dan dihimpit pelbagai tekanan perasaan, Pak Misan menyuarakan rasa hati kepada semua anaknya untuk berkahwin lagi.
“Tak boleh ayah… kalau ayah mati nanti senang-senang saja janda ayah dapat harta… kami dapat apa?”kata anak sulung. Anak yang lain juga sekata.
Mendengar itu, Pak Misan tunduk saja. Air matanya menitis ke lantai. Betapa berat mata memandang berat lagi bahu memikul… Pak Misan menahan hati tidak terhingga. Semua anaknya mementingkan diri tanpa memikirkan keadaan dan perasaan si ayah.
Agak lama juga Pak Misan bergelut dengan perasaan. Rayuan dan pujukan syaitan tidak putus-putus menyerang Pak Misan. Dengan sedikit iman di dada dapat juga Pak Misan melawannya, namun sampai bila?
Suatu hari pujukan syaitan bertambah kuat. Ia menabur janji yang indah-indah dengan syarat Pak Misan mengikut kehendaknya. Pak Misan bergelut lagi dengan hasutan itu. Akhirnya dia sudah mencapai seutas tali, tetapi dia masih mampu melawan pujukan itu. Dia rebah di bangsal di belakang rumah.
Sejak kematian Pak Misan, timbulah pelbagai cerita mengenainya. Ada yang menamakan jelmaan lembaga itu sebagai ‘hantu tali gantung’. Begitu buruknya sekali fitnah yang dicipta sesetengah anggota masyarakat kampung itu.
“Assalamualaikum…!”seru Pak Imam di depan rumah Pak Misan. Tiada jawapan. “Sah ini syaitan… ia menyerupai… jahatnya syaitan jahanam!” kata Pak Imam dalam hati. Kemudian dia membaca ayat suci khusus menghalau syaitan. “Sudah… Pak Misan sudah meninggal… ini bukan dunianya lagi… pergi!”
Selesai di situ Pak Imam mengajak beberapa penduduk kampung pergi ke kubur Pak Misan. Mereka membaca Al-Fatihah dan Yasin di samping memohon doa agar roh Pak Misan sentiasa dalam keadaan dirahmati Allah. - Amin.
Malam itu, angin mendesah. Sekali sekala kilat memancar. Durian amat rahat. Di setiap penjuru dusun kedengaran bunyi durian gugur. “Kalau tak cepat pungut, habislah pagi esok…” kata Bang Akob dalam hati. Sambil menggalas bakul rotan, dia menyuluh di kawasan pangkal pokok yang ada dua puluh batang itu. Kebanyakan pokok durian di dusun Bang Akob pokok tua. Dusun itu harta pusaka peninggalan ayahnya.
Angin malam itu terus mendesah. Kadang-kadang kuat, kadang-kadang perlahan. Ketika bertiup kencang, meliang-liuk kebanyakan dahan pokok dibuatnya. Ketika itu juga kedengaran bunyi durian gugur bertambah banyak. Hati Bang Akob kepalang gembira. Rezekinya esok hari pasti bertambah, fikirnya.
Sebiji demi sebiji durian dipungut dan dimasukkan ke dalam bakul rotan. Hati Bang Akob begitu lega. Duriannya tak sempat dipungut Mat Gian – panggilan biasa kepada budak-budak penagih dadah di kampungnya.
Bagaimanapun sesampai saja di pangkal sebatang durian berhampiran tanah perkuburan itu, Bang Akob terkejut. “Eh, dah datang pun dia…nasib baik aku sudah habis pungut…tak dapatlah dia,” bisik hati Bang Akob sebaik saja dia ternampak satu lembaga di tepi dusunnya.
“Fasal apa dia menuju ke kubur pula?” Kata Bang Akob kehairanan. Bang Akob bergerak menyusur ke penjuru tanahnya. Kemudian dia menyembunyikan diri di sebalik sebatang pokok besar. Lembaga itu bergerak perlahan sambil menarik seutas tali bubut kira-kira dua depa panjangnya. Tanpa membuang masa Bang Akob menyuluh. Suluhannya tepat ke wajah lembaga itu. Sekali lagi Bang Akob terkejut apabila wajah lembaga itu menyerupai orang yang dikenalinya.
“Eh, aku kenal…” bisik hati Bang Akob. “Pak Misan…!” Bang Akob melaung sekuat-kuatnya memanggil Pak Misan, orang tua kampung yang sering menjadi temannya berbual.
Bagi penduduk Kampung Pandan Seri, Pak Misan adalah seorang tokoh. Dia terkenal pendekarnya. Selain itu, dia juga tempat penduduk lelaki meminta ubat untuk menguatkan tenaga tertentu.
Tiada sebarang jawapan daripada lembaga itu. Ia berjalan terus sambil mengheret tali bubut. Tidak beberapa minit satu kejadian mengejutkan Bang Akob. Sebaik-baik saja dia membongkok memungut durian dan kemudian tegak semula, lembaga berwajah Pak Misan hilang dalam gelap malam itu.
Puas juga Bang Akob menyuluh di setiap penjuru dusun duriannya, namun lembaga itu tetap tidak kelihatan lagi. Bang Akob melaung memanggil Pak Misan tetapi tidak ada sebarang jawapan. Dia mula takut. Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berguguran. Kilat memancar sekali-sekala. Bunyi burung hantu di kejauhan menambahkan seram suasana ketika itu.
Bang Akob betul-betul ketakutan. Dia tidak mempedulikan lagi durian yang gugur. Apa yang ada di bakulnya, itu saja yang dibawa pulang ke pondok. Langkahnya begitu cepat. Hatinya bertanya sendiri: ”mengapa Pak Misan merayau di tanah kubur pada tengah-tengah malam begini?”
Menjelang subuh, Bang Akob pulang ke rumah membawa durian yang penuh sarat di dalam bakul di belakang motosikalnya.
Sebaik saja sampai di kepala simpang, Bang Akob terkejut besar ramai penduduk berkumpul di situ. Sebuah Land Rover hitam juga ada di situ.
“Eh apa halnya?” Tanya Bang Akob apabila ternampak kaki orang terjulur dari belakang Land Rover hitam itu.
Pagi itu Kampung Pandan Seri gempar secara tiba-tiba. Seorang penduduk, Mat Jami menemui mayat Pak Misan terlentang di bangsal di belakang rumahnya. Terpandang saja mayat itu, Mat Jami patah balik ke masjid. Dia ingin memberitahu jemaah masjid yang belum pulang selepas menunaikan solat subuh.
Ketua kampung dan Pak Imam masih di masjid. Mereka dan beberapa jemaah terkejut dengan berita yang dibawa Mat Jami. Tanpa membuang masa, mereka beredar ke rumah Pak Misan, Pak Misan sudah kaku di tepi bangsal. Mayatnya dikerumuni semut halus.
“Eh, apa hal Pak Misan memegang tali?” Tanya Pak Imam. Semua yang ada menerpa menghampiri mayat Pak Misan. Soalan itu tidak berjawab. Tidak ada seorang pun di situ yang tahu mengapa seutas tali bubut panjang dua depa itu ada di sisi Pak Misan.
“Kemaskan rumah Pak Misan,” arah Tuk Ketua Kampung. “Seorang pergi beritahu polis.”
Beberapa orang segera naik ke rumah Pak Misan. Pintu depan dan semua tingkap rumah itu terbuka. Mereka mengemas di sana sini dan membentang tikar tempat Pak Misan dibaringkan nanti.
“Kemudian kamu beritahu semua anak Pak Misan,” sambung Tuk Ketua Kampung apabila salah seorang penduduk bersedia dengan motosikalnya untuk ke balai polis kira-kira lima kilometer dari kampung itu.
Dalam masa yang singkat saja kematian Pak Misan tersebar ke seluruh kampung. Orang ramai mulai datang kerana ingin melihat keadaan Pak Misan yang dikatakan misteri itu.
Polis datang dan mengambil mayat Pak Misan untuk dibedah siasat. Orang kampung terus mengerumuni Land Rover hitam. Ketika itu Bang Akob sampai dan dia berhenti di situ bersama-sama dengan orang ramai. Di situ juga dia mendengar cerita mengenai mayat Pak Misan terbujur memegang seutas tali.
“Pak Misan memegang tali?” Tanya Bang Akob sendirian. Keanehan itu timbul kerana dia sendiri terserempak dengang lembaga menyerupai Pak Misan di kebun durian. Dia juga kelihatan mengheret seutas tali.
Selesai urusan pengkebumian Pak Misan, cerita misteri kematian Pak Misan tidak habis di situ. Ia merebak terus. Ramai yang bersimpati dengan arwah Pak Misan namun ramai juga yang mengaitkannya dengan pelbagai kisah timbul ketika Pak Misan masih hidup.
Seminggu selepas kematian Pak Misan, timbul pula kejadian yang lebih buruk. Kampung Pandan Seri ditimpa suasana yang menakutkan. Menjelang senja saja, terdengar suara terpekik terlolong kononnya terpandang lembaga mengheret tali berjalan di sekitar rumah Pak Misan. Yang mendakwa nampak hanya seorang dua, tetapi ceritanya cepat merebak sampai ke telinga anak remaja dan suri rumah.
Suatu senja, beberapa lelaki agak tua berjalan melintasi rumah arwah Pak Misan yang tinggal kosong sejak kematiannya. Sebaik saja sampai di depan rumah itu, mereka ternampak jelas satu lembaga menyerupai Pak Misan.
Sebelum meninggal, di situlah biasanya Pak Misan berdiri menunggu kawan-kawannya bersama ke masjid.
Hari demi hari, semakin ramai orang terserempak dengan lembaga itu. Yang anehnya tiap kali bertemu lembaga orang tua itu sedang mengheret tali.
Bukan itu saja,tali bubut itu juga melahirkan satu lagi misteri. Beberapa orang suri rumah pernah terserempak tali itu berlengkar di depan pintu rumah.
Kejadian itu sesungguhnya amat menakutkan penduduk Pandan Seri. Langkah mengatasinya diambil. Tuk Ketua Kampung memanggil anak buah berkumpul mencari jalan menghilangkan jelmaan itu. Ramai penduduk kampung bersimpati dengan arwah Pak Misan.Mereka tidak mahu jelmaan lembaga itu dikaitkan dengan Pak Misan. Sudahlah ketika ada hayatnya dulu hidup sebatang kara, ditinggal anak dan matinya pula menjadi sedemikian rupa.
“Baiklah, biar saya cuba bercakap dengan lembaga itu,” kata Pak Imam membuat cadangan.
“Saya nak ikut Pak Imam,” celah seorang ketika berlangsung pertemuan penduduk di masjid kampung itu.
“Biar saya pergi seorang diri…” jawab Pak Imam, ”saya merayu dengan makhluk halus itu nanti supaya jangan mengganggu penduduk kampung kita.”
Ramai orang tua di kampung itu percaya kononnya ketika hayatnya dulu, Pak Misan banyak menyimpan ilmu batin, termasuklah ilmu mempertahankan diri dan penggerun. Banyak makhluk halus mendampinginya. Akibatnya kehidupan Pak Misan menjadi tidak tenteram, terutama pada penghujung hayatnya.
Pada usia penghujung enam puluhan, Pak Misan kematian isteri. Dia tinggal kesepian. Semua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari rumah orang tua itu. Akhirnya, kira-kira enam bulan hidup membujang dan dihimpit pelbagai tekanan perasaan, Pak Misan menyuarakan rasa hati kepada semua anaknya untuk berkahwin lagi.
“Tak boleh ayah… kalau ayah mati nanti senang-senang saja janda ayah dapat harta… kami dapat apa?”kata anak sulung. Anak yang lain juga sekata.
Mendengar itu, Pak Misan tunduk saja. Air matanya menitis ke lantai. Betapa berat mata memandang berat lagi bahu memikul… Pak Misan menahan hati tidak terhingga. Semua anaknya mementingkan diri tanpa memikirkan keadaan dan perasaan si ayah.
Agak lama juga Pak Misan bergelut dengan perasaan. Rayuan dan pujukan syaitan tidak putus-putus menyerang Pak Misan. Dengan sedikit iman di dada dapat juga Pak Misan melawannya, namun sampai bila?
Suatu hari pujukan syaitan bertambah kuat. Ia menabur janji yang indah-indah dengan syarat Pak Misan mengikut kehendaknya. Pak Misan bergelut lagi dengan hasutan itu. Akhirnya dia sudah mencapai seutas tali, tetapi dia masih mampu melawan pujukan itu. Dia rebah di bangsal di belakang rumah.
Sejak kematian Pak Misan, timbulah pelbagai cerita mengenainya. Ada yang menamakan jelmaan lembaga itu sebagai ‘hantu tali gantung’. Begitu buruknya sekali fitnah yang dicipta sesetengah anggota masyarakat kampung itu.
“Assalamualaikum…!”seru Pak Imam di depan rumah Pak Misan. Tiada jawapan. “Sah ini syaitan… ia menyerupai… jahatnya syaitan jahanam!” kata Pak Imam dalam hati. Kemudian dia membaca ayat suci khusus menghalau syaitan. “Sudah… Pak Misan sudah meninggal… ini bukan dunianya lagi… pergi!”
Selesai di situ Pak Imam mengajak beberapa penduduk kampung pergi ke kubur Pak Misan. Mereka membaca Al-Fatihah dan Yasin di samping memohon doa agar roh Pak Misan sentiasa dalam keadaan dirahmati Allah. - Amin.
